Mencium Bumi yang Terbalik

Monday, June 18th, 2012 - Personal

Mencium Bumi yang Terbalik

Kadang aku merasa menang dengan apa yang ku miliki, dengan apa yang aku anggap suatu keberhasilan. Sehingga tak jarang aku memperlihatkan apa yang sepertinya menjadi hak milikku, yang sepertinya sedang kupunya.

Tapi apakah benar semua itu nyata? Memiliki dan mempunyai sepertinya hanyalah kalimat yang dapat membuat hati terhibur, dan kadang malah hati takabur. Yang aku/ kita punya kadang sedikit melimpah, sehingga tanpa sadar sifat bersyukur pun kalah oleh rasa bangga yang berlebihan, yang akhirnya membuat keinginan untuk memeperlihatkan apa yang sepertinya dimiliki kepada orang lain pun tak dapat dicegah.

Apakah kalau orang lain tahu itu akan merubah kenyataan? Atau menambah banyak apa yang agaknya sudah dimiliki? Mungkin hanya rasa puaslah yang bertambah, yang memenuhi hati dan menutup rasa rendah diri yang jauh terhimpit didalamnya.

Kapankah rasa puas akan tiba? Menggantikan rasa ingin mengumpulkan apa yang sepertinya hanya barang titipan tersebut? Kapankah rasa ingin menunjuk-nunjuk ke orang lain itu akan hilang?

Mungkin dan ini hanya dugaan semata, rasa tersebut akan berangsur pergi kalau sudah mencium betapa harumnya aroma bumi yang memberikan sejuta kehidupan ini. Tapi mencium ibu pertiwi pun kadang seolah menjadi ajang bergengsi yang membuat hati ingin berkata ‘inilah aku, ku cium bumi dan aku bisa!’

Apakah itu bukannya suatu kegiatan yang berputar-putar? Mencium bumi untuk memperlihatkannya kepada orang banyak? Yang seolah ingin menunjukkan kalau segalanya bisa dimiliki dengan apa yang menjadi titipan dan dengannya bisa mewujudkan keinginan apapun termasuk mencium bumi yang semu?

# aku, kita, dan mereka kadang mencium bumi yang terbalik.

Leave a Reply