Cerita Di Balik Chat Gratis Net Send

Saturday, October 25th, 2014 - Personal

Siapa yang pernah mainan chat gratis di Windows menggunakan Net Send ? Itu lho chat berbasis IP dalam LAN yang diakses melalui Command Prompt. Chating yang seperti ini asyik, karena menggunakan pop up jadi akan nongol ditengah-tengah layar lawan chat. Kalau dilirik ini bukanlan untuk chating, tapi untuk mengetes koneksi LAN dan untuk mengirim pesan antar user dalam LAN.*Halah, sama saja !

Saya tidak akan mengajari bagaimana bermain chating via command prompt itu, karena panjenengan lebih tahu dari saya masalah begituan. Namun saya mempunyai kisah yang tidak mungkin bisa saya lupakan. Kadang malu mengingatnya, tapi itulah teguran buat saya.

Ceritanya antara komputer lab. (gratis buat mahasiswa) dan komputer Admin (khusus pegawai) itu cuma dibatasi dengan kaca bening. Jadi baik pengguna komputer admin maupun komputer lab sama-sama bisa liat satu sama lain.

net send

Waktu itu saya lagi hobi-hobinya ngirim pesan lewat Net Send, selain unik kita tak harus sama-sama online cuma dibutuhkan koneksi LAN dan secara sepihak kita bisa mengirimi beribu-ribu pesan kepada user lain. Dengan catatan, mengetahui alias atau IP user.

Waktu itu saya bertiga dengan anak asrama lainnya, Sandy Kurniawan (sekarang di Amikom Yogyakarta) dan Darso (sekarang sebagai laboran di Amikom Purwokerto). Kalau saya tidak salah ingat, hanya satu yang mengakses komputer dan yang dua cuma ngelihatin.

Disaat yang bersamaan, Kang Boim (salah satu staff) sedang menggunakan komputer Admin dengan salah satu teman kuliahnya yang perempuan. Sebagai orang yang taat pada agama, hati saya tergelitik buat usil dengan Kang Boim. Lantas, saya langsung mengaktifkan Net Send dan mengirimkan pesan berikut :

“Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan.”

Sungguh, niat saya bukan mau menggurui apalagi menegur. Saya tahu, Kang Boim lebih paham masalah seperti itu. Niat saya cuma bergurau dan pamer kalau saya sudah mampu kirim pesan via LAN, namun apa dikata. Ini menjadi gurauan yang paling menakutkan sepanjang hidup saya.

Setelah pesan itu terkirim, Kang Boim tidak jadi menggunakan komputer Admin. Lantas temannya pulang dan Kang Boim menyambangi kami bertiga di lab.

“Siapa tadi yang mengirim begituan ?”, Ucapan Kang Boim begitu datar. Dan saya tahu, Kang Boim berusaha tidak marah dengan ketidaksopanan kami.

Tidak ada yang menjawab, semua terdiam dan serba salah. Tapi sayalah yang paling tidak bisa berbuat apa-apa, saya ada dibalik otak itu semua.

“Nggak, saya tidak mengharapkan kalian menjawabnya. Hanya saja, jangan ulangi lagi !”Dan Kang Boim pun pergi. Kami bertiga ribut saling menyalahkan.

Sejak kejadian itu, saya lebih hati-hati lagi dan berjanji tidak akan menggunakan hal sakral dalam gurauan. Sekarang kalau saya balik ke tempat saya belajar dulu dan ketemu sama Kang Boim, saya seperti merasakan teguran itu kembali. Malu bercampur menyesal.

Bercanda boleh saja, asal liat situasi dan kondisi lawan canda. Buat Kang Boim, saya minta maaf atas kejadian itu, saya khilaf.

Sugito Kronjot, 15 Juli 2011

Leave a Reply